Pendidik yang Radikal

Pendidik yang Radikal

Sebelum dikenal sebagai tokoh pendidikan, Ki Hadjar Dewantara adalah politisi radikal.

80
BERBAGI
Ilustrasi: Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara muda) sedang mengajar/dbnl

Koran Sulindo – Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 316 Tanggal 16 Desember 1959. Tanggal 2 Mei adalah tanggal kelahiran Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ki Hadjar Dewantara adalah pendiri Sekolah Taman Siswa pada 5 Juli 1922 dan kelak berdiri di banyak tempat di Tanah Air. Awalnya diberi nama  National Onderwijs Institut Taman Siswa dan menempati Balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur), yang kini betada di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta.

Pendirian sekolah itu berangkat dari kegelisahan Ki Hadjar atas pendidikan di Hindia Belanda yang diskriminatif. Pada amsa itu, hanya anak-anak priyayi yang boleh bersekolah. Dengan mendirikan Taman Siswa, Ki Hadjar mencoba mempeluas akses pendidikan bagi semua kalangan—tapi kemudian tidak diakui oleh pemerintah Hindia Belanda dan dianggap sebagai sekolah liar.

Taman Siswa memiliki prinsip dasar yang menjadi pedoman bagi guru, yang dikenal sebagai Patrap Triloka. Konsep ini dikembangkan oleh Soewardi setelah ia mempelajari sistem pendidikan progresif yang diperkenalkan oleh Maria Montessori (Italia) dan Rabindranath Tagore (India/Benggala). Patrap Triloka memiliki unsur-unsur (dalam bahasa Jawa)ing ngarsa sung tulada‘yang di depan memberiteladan’; ing madya mangun karsa ‘di tengah membangun kemauan/inisiatif’, dan; tut wuri handayani ‘dari belakang mendukung’.

Sebelum dikenal sebagai pendidik, Ki Hadjar pada awalnya adalah seorang politisi. Ia bersama Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudhi) dan Tjipto Mangoenkoesomo mendirikan partai politik pertama di Hindia Belanda, Indische Partij, pada September 1912 dan resmi berdiri melalui sebuah vergadering di Bandung pada 25 Desember 1912. Pada kepengurusannya pusat(Hoofdbestuur), Ernest Douwes Dekker didapuk sebagai ketua dan Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai wakilnya. Tujuan partai politik ini adalah adalah kemerdekaan Hindia, dengan slogan “Hindia untuk orang Hindia”. Ketika itu, nama “Indonesia” memang belum dikenal. Nama “Indonesia” baru diciptakan oleh Perhimpunan Indonesia di Deen Haag, Negeri Belanda, pada tahun 1920-1921, lalu resmi diadopsi Perhimpunan Indonesia pada tahun 1922.

Menurut Bung Hatta dalam ceramahnya di Gedung Kebangkitan Nasional pada 22 Mei 1974, “Berlainan dengan Sarekat Islam yang tidak mau bicara politk dan melarang anggota-anggotanya berpolitik, Indische Partij tegas menghendaki kemerdekaan Hindia dengan jalan parlementer. Jadi menuntut diadakannya suatu Dewan Perwakilan Rakyat.”

Menurut Douwes Dekker,berdirinya Indische Partijadalah pernyataan perang, yaitu sinar terang yang melawan kegelapan; kebaikan melawan kejahatan; peradaban melawan tirani; budak pembayar pajak kolonial melawan negara pemungut pajak.

Ketika Pemerintah Kolonial Hindia Belanda ingin merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas penjajahan Prancis pada November 1913, Indische Partij menentang. Alasannya: perayaan tersebut adalah penghinaan bagi bangsa Hindia yang masih terjajah.Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar menulis artikel berjudul “Als Ik Een Nederlander was…” (‘Kalau Saya Seorang Belanda…’).Ia antara lain menulis: “Apabila saya seorang Belanda, saya tidak akan mengadakan pesta kemerdekaan dalam suatu negeri sedangkan kita menahan kemerdekaan bangsanya. Sejalan dengan pendapat ini bukan saja tidak adil melainkan juga tidak pantas apabila bumiputra disuruh menyumbangkan uang untuk keperluan dana pesta itu. Sudahlah mereka dihina dengan maksud mengadakan perayaan kemerdekaan Nederland itu, sekarang dompet mereka dikosongkan pula. Itulah suatu penghinaan moril dan pemerasan uang!”

Karena tulisan itu, Soewardi dan Tjipto ditangkap. Juga kemudian Douwes Dekker, karena menulis artikel berjudul “Onze Helden” (‘Pahlawan Kita’), yang memuji kepahlawanan Soewardi dan Tjipto. Awalnya, ketiganya dibuang ke Bangka, lalu dipindahkan ke Belanda. [Purwadi]