Merayakan Kebhinnekaan di Tengah Ancaman Intoleransi

Merayakan Kebhinnekaan di Tengah Ancaman Intoleransi

78
BERBAGI
Orang muda dari Muslim (kiri) dan Katolik (kanan) berfoto selfie dalam kampanye Bandung Lautan Damai di Bandung, Minggu (2/11/2014). Bandung Lautan Damai adalah rangkaian 7 kegiatan memperingati Hari Toleransi Internasional. (Foto: @BdgLautandamai)

Koran Sulindo – Hari Toleransi Dunia yang jatuh hari ini diperingati sejumlah aktivis di Jakarta, salah satunya digagas The Wahid Foundation yang dipusatkan di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

“Karena bersama tak harus sama! Ayo, merayakan kebhinnekaan di Peacetol, UNJ 16 Nov 16. Gratis #ToleransiDamai,” tulis akun Twitter @wahidfoundation.

Yenny Zannuba Wahid, putri sulung Mantan Presiden Abdurrahman Wahid juga menyerukan hal sama melalui akunnya @yenniwahid: “Aksi 1611! Join us untuk bersama-sama rayakan hari toleransi dunia #ToleransiDamai.”

Hari Toleransi kali ini juga dirayakan dengan dua festival film berskala internasional yang selama empat tahun terakhir fokus mencari film-film bertema toleransi, yakni “International Film Festival for Spirituality, Religion and Visionary” dan “World Tolerance Award”.

“Perayaan Hari Toleransi Sedunia tahun ini terasa sangat relevan, sekaligus memprihatinkan mengingat kondisi global yang tidak kondusif untuk toleransi,” kata pendiri sekaligus direktur dari kedua festival tersebut, Damien Dematra, di Jakarta, Rabu (16/11), seperti dikutip Antara.

Menurut Damien, umat Islam dan kaum minoritas di Amerika Serikat kini dilanda ketakutan dan kekhawatiran karena sikap politik Presiden Terpilih Amerika Serikat Donald Trump yang melarang umat Islam masuk AS dan berniat menutup masjid-masjid di AS.

Akibatnya sinyal toleransi di antara umat beragama mengalami kemunduran drastis tahun ini.

Sedangkan Duta Toleransi yang juga sutradara remaja Natasha Dematra mengatakan berbagai peristiwa yang terjadi beberapa bulan terakhir ini menunjukkan bahwa di era modern seperti sekarang ini masih banyak orang berpikiran sempit dan lupa nilai toleransi.

“Saya berharap, adanya perayaan Hari Toleransi Sedunia ini dapat mengingatkan kembali tentang arti pentingnya toleransi yang sebenarnya,” kata Damien.

Unesco

Direktur Jenderal Unesco, Irina Bokova, mengatakan dalam dunia yang beragam, toleransi adalah dasar utama perdamaian.

“Toleransi adalah ide kecil dan seringkali mendapat ancaman. Di seluruh dunia toleransi mendapat serangan dari kelompok-kelompok berdoktrin keras,” katanya dalam sambutan memperingati International Day for Tolerance.

“Kita harus melawan kecenderungan ini dengan memperkuat dan merayakan kultur toleransi,” kata Bokova.

Perayaan hari Toleransi Dunia berdasar Deklarasi Prinsip-prinsip Toleransi yang diadaptasi pada 1995.

Pada 1996, Sidang Umum PBB menetapkan deklarasi itu sebagai perayaan toleransi sedunia.

Sejak 1995, sekaligus untuk merayakan kelahiran ke-125 Mahatma Gandhi, Unesco memberikan penghargaan Madanjeet Singh Prize untuk Promosi Toleransi dan Antikekerasan di bidang keilmuan, budaya, artistik, dan komunikasi.

Tahun ini penghargaan diberikan pada Tolerance Center (the Federal Research and Methodological Center for Tolerance Psychology and Education of Russia). [DAS]