Kembaran Gelora Bung Karno menjadi Stadion Terbaik Dunia 2017

Kembaran Gelora Bung Karno menjadi Stadion Terbaik Dunia 2017

264
Ilustrasi: Stadion Luzhniki pada 2017/ria novosti

Koran Sulindo – Stadion Luzhniki di Moskow, kembaran Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta, dinobatkan menjadi stadion terbaik di dunia tahun 2017. Stadion yang akan menjadi venue pertandingan pembukaan Piala Dunia FIFA 2018 nanti itu mengalahkan stadion U Arena di Prancis dan Stadion Mercedes-Benz (peringkat ketiga) di Amerika Serikat.

“Satu-satunya dari tiga stadion yang meraih nilai 100 persen dari seluruh dewan juri, dan kandidat tunggal tahun ini yang mendapatkan skor rata-rata 75 persen atau lebih di setiap kategori. Kami dengan bangga mengumumkan bahwa stadion nasional Rusia dan sekaligus tuan rumah pertandingan pembuka dan penutup Piala Dunia FIFA 2018™, meraih gelar Stadion Terbaik Tahun Ini,” tulis siaran pers di situs Stadion Database.

Stadion Luzhniki adalah stadion paling terkenal di Rusia yang menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 1980.

Stadion ini direnovasi sejak 2 tahun lalu untuk menyambut pergelaran Piala Dunia. Para arsitek mempertahankan “kulit luar” stadion yang historis, tapi merombak seluruh bagian dalamnya.

“Ukuran dan nilai historis Luzhniki merupakan tantangan yang sangat berat bagi mereka yang terlibat dalam proyek renovasi stadion. Terletak di pusat sejarah kota, stadion ini pasti akan dilihat sebagai tempat wisata yang penting.” kata Dr. Maria Sipińska-Małaszyńska, satu-satunya anggota perempuan dalam dewan juri 2017, seperti dikutip id.rbth.com.

Latar Belakang

Stadion ini dibangun pada 1956, tak lama setelah atlet Soviet untuk pertama kalinya ikut berkompetisi secara internasional pada Olimpiade Musim Panas 1952 di Helsinki, Finlandia. Para arsitek dan pekerja konstruksi Soviet pun bekerja ekstra dua kali lipat demi mendirikan stadion baru hanya dalam tempo 450 hari.

Ilustrasi; Stadion Luzhniki pada 2016/fifa com

Sementara penancapan tiang pancang Stadion Utama (GBK) dilakukan Presiden Soekarno pada 8 Februari 1960, bagian dari pembangunan kompleks Asian Games IV, disaksikan wakil perdana menteri Uni Soviet, Anastas Mikoyan. Baru pada 21 Juli 1962, stadion berkapasitas 100.000 penonton itu (setelah renovasi tahun 2018 ini tinggal 80.000 kursi) selesai dibangun.

Stadion ini awalnya bernama Stadion Utama Lenin, dari nama pemimpin pertama Uni Soviet, Vladimir Lenin.

Stadion ini dibangun di daerah yang indah di samping Bukit Lenin (sekarang Bukit Sparrow) dan di seberang gedung utama Universitas Negeri Moskow (MGU).

Pada 1992, stadion ini berganti nama menjadi Luzhniki.

Luzhniki baru mendapatkan sorotan di luar negeri pertama kali pada Olimpiade Musim Panas 1980 di Moskow.

Luzhniki juga merupakan stadion utama sepak bola Soviet dan rumah bagi tim nasional Uni Soviet.

Kompleks Luzhniki memiliki sejumlah fasilitas, termasuk gelanggang es, lapangan tenis, dan kolam renang luar ruangan.

Setelah jatuhnya “Tirai Besi” pada 1989, Luzhniki menjadi tempat konser papan atas di kota Moskow. Stadion ini telah menyambut artis-artis ternama dunia, seperti Michael Jackson, Madonna, Metallica, dan Red Hot Chili Peppers.

Pada tahun 1997, atap tembus pandang ditambahkan di atas tribun Luzhniki untuk melindungi para penonton dari terpaan hujan. Meski begitu, tetap ada banyak penggemar yang mengkritik arena ini karena Luzhniki dirasa kurang nyaman dari segi visibilitas dari banyak bangku penonton ke lapangan.

Kejayaan terakhir Luzhniki adalah pada Agustus 2013, yaitu ketika Moskow menjadi tuan rumah Kejuaraan Atletik Dunia IAAF.

Kini, Luzhniki sudah menjalani “operasi kecantikan” agar tampil layaknya burung phoenix pada pertandingan pembukaan dan final Piala Dunia FIFA 2018 nanti. [DAS]