Kapolri Batalkan Kunjungan ke Turki dan Arab Saudi

Kapolri Batalkan Kunjungan ke Turki dan Arab Saudi

63
BERBAGI
Ilustrasi

Koran Sulindo – Kapolri Jenderal Tito Karnavian membatalkan kunjungan ke Turki dan Arab Saudi, dan langsung pulang ke Indonesia. Tito dijadwalkan tiba di tanah air Jumat (26/5), pukul 16.00 WIB ini.

“Ya, ke Turki dan Arab dibatalkan. Kemarin sudah ke Iran. Kembali ke Jakarta hari ini,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, di Mabes Polri Jakarta, Jumat (26/5).

Alasan pembatalan kunjungan ke dua negara tersebut sebagai pertanggungjawaban pimpinan Polri.

Sebelumnya, urang dari 24 jam setelah kejadian, polisi telah mengidentifikasi 2 nama pelaku teror bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, yang terjadi pada Rabu malam (24/5).

“Pelaku di TKP pertama atas nama Ihwan. Pelaku TKP dua atas nama Ahmad Sukri,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Humas Polri, Komisaris Besar Polisi Martinus Sitompul, di Jakarta, Kamis (25/5).

Namun belum diketahui kedua pelaku berasal dari jaringan teroris apa dan motif bom bunuh diri tersebut. Ledakan bom itu menewaskan 3 anggota polisi yaitu Bripda Topan Al Agung, Bripda Ridho Setiawan, dan Bripda Imam Gilang Adinata. Sedangkan yang luka-luka adalah Bripda Feri, Bripda Yogi, Bripda Muhammad Puji Saputra, Bripda Muhammad Al Agum Pangestu, Bripda Syukron Rian Nugroho, dan Bripda Pandu Dwi Laksono.

Adapun masyarakat sipil yang mengalami luka-luka dalam aksi teror bom tersebut, sebanyak 5 orang. Mereka adalah supir mikrolet Damai Sihaloho dan supir Kopaja Agung, karyawan bank BUMN Tasdik, serta dua orang mahasiswi Susi Afitriani dan Jihan.

Kebobolan

Sementara itu pengamat kepolisian, Mustofa B Nahrawardaya mengatakan dalam kasus bom di Kampung Melayu Jakarta, polisi telah kebobolan.

“Saya bilang kebobolan dalam kondisi politik tidak stabil polisi tidak boleh lengah atau berpolitik. Harusnya fokus pengamanan dan pengayom untuk masyarakat,” kata Mustofa kepada Koran Sulindo, Kamis (25/5).

Seharusnya Densus 88 Antiteror bisa mencium pergerakan kelompok teroris, seperti yang telah dilakukan setiap penangkapan. Selain itu, menurut Mustofa, dengan kepergian Tito ke luar negeri maka kelompok teroris menganggap Kapolri sedang tidak mengawasi secara holistik. [YMA]