Islam dengan Wajah Tersenyum

Islam dengan Wajah Tersenyum

Islam di Indonesia berbeda dengan Islam di jazirah Arab atau negeri-negeri Afrika. Akulturasi dengan budaya lokal membuat agama itu di Indonesia menjadi ramah dan toleran.

13
BERBAGI
Ilustrasi/worldtravelguide.net

Koran Sulindo – Kebijakan soal Islam di Indonesia, mungkin pengaruhnya masih ada hingga hari-hari ini,  bermula sejak jaman penjajahan Belanda. Dan orang yang patut didakwa sebagai dalang adalah Dr  Christian Snouck Hurgronje.

Orientalis yang bekerja untuk pemerintah jajahan Belanda itu datang ke Hindia-Belanda pada 1889, tahun itu juga ia ditunjuk menjadi penasehat Kantor Urusan Orang Pribumi dan Arab (Kantoor voor Inlandsche Zaken). Kantor inilah dalam proses waktu kemudian berubah menjadi Departemen Agama ketika Indonesia merdeka.

Berkat pengalamannya di Timur Tengah, terutama Mekah dan Aceh, Hurgronje menemukan pola dasar kebijakan pemerintah Hindia-Belanda untuk menghadapi Islam di wilayah jajahannya.

Menurut tesis Hanibal Wijayanta, “Kebijakan Haji di Hindia Belanda”, yang cuplikannya dimuat di akun Facebook-nya, kebijakan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam hanyalah berdasarkan rasa takut dan tidak mau ikut campur.

Dari banyak nasehat “ilmiahnya” ke pemerintah, salah satu yang terpenting adalah pada hakikatnya orang Islam di Hindia-Belanda memiliki sifat damai, namun ada masanya beberapa saat bisa berubah menjadi politik fanatisme Islam. Musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, melainkan sebagai doktrin politik.

Nasehat Hurgronje ini dipakai pemerintah jajahan dan dioper terus sejak Indonesia merdeka, Orde Baru, hingga masa reformasi, dan setelahnya.

Pada masa Rezim Soeharto itu, misalnya, Islam diperlakukan sebagi ancaman dan selalu di bawah rumah kaca untuk diawasi. Namun setelah reformasi 1998, Islam yang berpuluh tahun dipinggirkan itu seperti mendapat angin segar. Pada Pemilu 1999 misalnya, dari 47 partai poltik peserta Pemilu, lebih sepertiganya adalah partai Islam atau yang menggunakan Islam sebagai benderanya.

Namun karena kekuatan Islam terpecah-pecah seperti itu, hasil Pemilu malah menunjukkan hasil yang memukul balik: mayoritas partai tak mempunyai suara yang cukup agar bisa membawanya ke parlemen dan ke panggung politik. Hanya beberapa partai Islam yang bisa bertahan hingga Pemilu 2004 dan 2009.

Pemilu 2014 lalu malah menyaksikan hampir semua partai Islam, kecuali PKB, PAN, PPP, dan PKS, berantakan. Dan kecuali PKB, semua partai berkecenderungan Islam itu suaranya terpuruk.

Setelah hampir 20 tahun reformasi kini, kekuatan politik Islam yang masih terfragmentasi itu membuat sebagai kekuatan politik, Islam tidak mempunyai panggung. Mungkin karena itulah beberapa tahun belakangan ini bangkit suatu golongan yang, oleh Azyumardi Azra dalam Revisitasi Islam Politik dan Islam Kulural (2012), disebut mempunyai agenda politik seperti parpol Islam, namun tidak mempercayai partai Islam yang ada juga organisasi kultural seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Golongan ini juga tak mengakui keabsahan sistem dan proses politik yang ada.

Golongan ini muncul ke permukaan dan terlihat besar pada peristiwa yang mengikuti proses politik dan hukum Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Dan dalam proses melengserkan Ahok dari kekuasaan dengan menggunakan politik identitas seperti penistaan agama dan sebagainya itu, mereka merebut panggung politik dan pemberitaan media massa. Dalam seluruh proses itu, Islam Indonesia seolah-olah berubah dari Islam yang ramah menjadi yang marah-marah.

Setelah gaduh Pilkada itu berakhir dan Ahok akhirnya masuk penjara, harusnya Islam kembali menampilkan wajah aslinya ramah dan toleran. Seperti Islam yang memiliki sifat damai dalam kategorisasi Hurgronje tadi.

Selama ini Islam Indonesia dinilai oleh negara-negara asing, terutama Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sebagai moderat dan toleran. Majalah Newsweek  dan Time dari AS sempat menjuluki agama itu di Indonesia sebagai Islam dengan Wajah Tersenyum (Islam with a Smiling Face).

Islam di negeri ini berkembang menjadi sebuah hibriditas keberagamaan baru yang sejak Wali Songo (Wali Sembilan) bisa berdialog dengan unsur lokal. Persenyawaan ini adalah cara Islam untuk eksis dan bertahan di tanah yang jauh dari tempat kelahirannya di jazirah Arab sana.

Islam di nusantara dinilai Islam yang moderat dan damai, tidak memiliki masalah dengan modernitas, demokrasi, hak asasi manusia, kesetaraan jender, dan isu kontemporer lain. Menjadikan Islam menjadi agama yang tersenyum lagi adalah tugas sejarah kita hari-hari ini. [Didit Sidarta]