Haji Misbach: Sang Mubalig Merah

Haji Misbach: Sang Mubalig Merah

252
BERBAGI

Koran Sulindo – Misbach lahir di lingkungan keluarga muslim saleh di Kauman Surakarta (kini Jawa Tengah) tahun 1876. Orang tuanya pengusaha batik yang sukses. Teman-teman masa kecil memanggil dia dengan sebutan Achmad, namun dia kemudian memilih nama Darmodiprono setelah menikah. Namanya kembali diganti menjadi Mohammad Misbach sepulangnya dari ibadah ke tanah suci di Makkah.

Misbach dalam sejarah pergerakan di Indonesia memiliki posisi yang unik. Berseteru dengan Muhammadiyah dan Sarikat Islam, Misbach justru bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan melihat komunisme sebagai penuntun kaum muslim menuju Islam sejati.

Misbach menghabiskan masa kecilnya di Kauman, tempat yang secara tradisional menjadi kediaman para pemuka agama keraton. Menempati pinggir jalan besar, rumah keluarga Misbach terletak tepi jalan di sisi barat alun-alun utara dekat Masjid Agung sekaligus menghadap penjara. Kampung itu tepat di depan keraton sunan, persis di tengah kota yang waktu itu mengklaim dirinya sebagai jantungnya peradaban Jawa.

Meski bapaknya bukan pemuka agama sunan, tinggal di Kauman yang sangat religius membuat Misbach akrab dengan pemahaman agama. Sebagian besar masa-masa sekolahnya habis pesantren mendalami agama. Satu-satunya pendidikan sekuler yang pernah dijajal adalah sekolah bumiputra angka dua. Itu pun tak lama, hanya delapan bulan.

Ketika tiba waktunya mandiri, Misbach mengikuti jejak keluarga dengan terjun dalam perdagangan batik. Dia membangun rumah batik sendiri dan tak lama kemudian sudah tampil sebagai pengusaha batik sukses.

Surakarta mulai bergejolak dengan muncul Sarekat Islam (SI). Misbach mendaftar menjadi anggota pada 1912. Hanya mendaftar dan  tak pernah aktif hingga bertahun-tahun kemudian. Ia baru terlihat aktif di pergerakan tahun 1914 saat bergabung dengan Perkumpulan Jurnalis Pribumi yang digagas Marco Kartodikromo.

Marco menganggap Misbach adalah pribadi yang egaliter dan sangat menyenangkan. Misbach tak menganggap berbeda antara pencuri biasa atau orang berpangkat, rebana atau klenengan, juga mbok haji yang bertutup muka dengan kupu-kupu malam. Marco juga mengingat Misbach tak mempermasalahkan sorban cara Arab atau kain kepala cara Jawa seperti blangkon dan iket. Tak seperti haji-haji yang lain, Misbach memilih yang terakhir.

Takashi Shiraisi dalam Zaman Bergerak mengatakan, di kalangan anak muda di Kauman, Misbach termasuk sosok yang populer. Dia sering terlihat berkerumun dengan anak muda sambil mendengarkan klenengan, lengkap dengan tandaknya yang bersuara merdu. Di kalangan ini, Misbach juga dianggap sebagai teman yang menyenangkan untuk melancong.

Di sisi lain, Misbach yang merakyat itu tiba-tiba bisa berubah menjadi harimau untuk orang-orang yang mengaku Islam tapi lebih suka mengumpulkan harta dibanding menolong kesusahan rakyat. Mulutnya tajam dan tak sungkan-sungkan mencela mereka yang mengisap darah saudara atau teman-temannya.