Bung Karno dan Islam yang Membebaskan

Bung Karno dan Islam yang Membebaskan

182
BERBAGI
Pemikiran Bung Karno tentang Islam yang membebaskan [Foto: Istimewa]

Koran Sulindo – Salah satu buku yang paling mempengaruhi pemahaman Bung Karno tentang Islam adalah Spirit of Islam, karangan Syed Ameer Ali, ulama besar abad ke-19 yang berasal dari India. Buku ini pertama kali terbit sekitar tahun 1880-an, di London, dengan judul A Critical Examination of Life and teaching of Muhammad. Kemudian di tahun 1891 terbit kembali dengan judul panjang: The Life and Teaching of Muhammad or The Spirit of Islam: A History of The Revolusion and Ideal of Islam With A Life of The Prophet.

Selanjutnya, buku itu telah mengalami berbagai perubahan serta revisi, dan mengalami berkali-kali cetak ulang, hingga akhirnya terbit dengan judul The Spirit of Islam. Isi buku ini membahas ajaran-ajaran utama  agama Islam seperti: tauhid, ibadah, hari kiamat, kedudukan wanita, perbudakan, sistem politik, dan sebagainya. Di samping itu pula, dijelaskan mengenai kemajuan ilmu pengetahuan serta pemikiran rasional dan filosofis yang yang terdapat dalam sejarah Islam.

Pengaruh The Spirit of Islam dalam pemikiran Soekarno, antara lain, tampak dalam tulisannya Me “Muda” kan Pengertian Islam”. Dalam salah satu bagian tulisan itu, Bung Karno mengutip pendapat Syed Ameer Ali yang mengatakan: “…hukum yang baik haruslah seperti karet, dan kekaretan ini adalah teristimewa sekali pada hukum-hukum Islam. Hukum Islam itu cocok dengan semua kemajuan…”

Dengan tegas, Bung Karno memuji elastisitas hukum atau syariat Islam. Hukum yang digambarkannya “seperti karet” itu bisa membuat Islam bisa cocok dengan semua kemajuan. “Islam tidak akan dapat hidup seribu empat ratus tahun, kalau hukum-hukumya tidak ‘seperti karet’….. Zaman beredar, kebutuhan manusia berobah,–panta rei!—maka pengertian tentang hukum-hukum itu adalah berobah pula,” tulis Bung Karno.

Argumen Bung Karno itu, menurut Goenawan Mohammad, sepenuhnya artikulasi pragmatisme. Tapi, pragmatisme Bung Karno itu tentu saja tidak menafikan iman. Pragmatisme itu menilai agama bukan benar atau tidak (dalam pengertian kebenaran sesuai keyakinan diri yang penuh), melainkan menilai agama dari manfaatnya bagi manusia.

Memang, selain interaksi dengan tokoh-tokoh Islam di masa itu—HOS Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, A. Hassan–, yang juga membentuk pemikiran keislaman Bung Karno terutama adalah refleksinya terhadap pemikiran pembaharuan yang datang dari Turki, Mesir dan anak benua India, di samping pemikiran yang berdimensi politik, filsafat, sejarah, yang datang dari Barat dan pemikiran nasionalis Timur.

Soekarno muda sangat tertarik pada gerakan pembaharuan pemikiran keislaman, yang disebut “rethinking of Islam”. Gerakan ini, menurut Bung Karno, merupakan kecenderungan baru pada wilayah perkembangan Islam pada awal abad 20, yang terbagi lima, yaitu: Turki (termasuk Iran), Mesir, Palestina, Saudi Arabia dan India. Kelima wilayah itu sungguhpun dengan gaya yang berbeda, tetapi semuanya menuju kepada kesadaran baru: menjadikan Islam tetap relevan dengan perkembangan kehidupan modern, dan menjadi kekuatan pembebasan umat dari keterbelakangan. Untuk mencapai hal itu, tidak ada jalan lain kecuali terus menerus melakukan pemahaman baru terhadap ajaran Islam yang berdasar pada kemerdekaan roh, akal, dan ilmu pengetahuan.

Bung Karno mulai merumuskan pemikirannya tentang Islam bersamaan waktunya dengan pengembaraan pemikirannya di lapangan politik. Oleh karena sasaran perjuangan politiknya adalah menciptakan persatuan untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan, maka hal yang mendorongnya untuk memikirkan Islam adalah untuk mencari cara agar Islam hidup kembali sebagai kekuatan pembebas umat dari keterbelakangan. Hal ini bisa tercapai apabila Islam telah berfungsi sebagai landasan etos kerja.

Saat Bung Karno di tanah pembuangan, Ende, dimana ia merenungkan dasar negara yang akan dibentuk kelak, saat itu pula ia merenungkan karakter Islam, mengemukakan kritik kepada umat Islam dan mengajukan gagasan sebagai jalan keluar dari keterbelakangan umat. Karena itu, seperti ditulis Ridwan Lubis dalam Soekarno dan Modernisme Islam, tidak terdapat alasan yang kuat untuk menyatakan keterlibatan Soekarno dengan pembaruan pemikiran Islam hanya sekedar mode atau hal yang timbul sekonyong-konyong saja, tidak juga karena keinginan untuk mendapatkan simpati dari umat Islam untuk menopang kepemimpinannya di lapangan politik.

Persentuhan pandangan keislaman Bung Karno dengan pandangan politiknya tampak pada kemiripan dasar pandangan politiknya dengan dasar pandangan keislamannya. Kerangka pemikiran politiknya bertumpu pada tiga hal: anti-elitisme, anti-kapitalisme, dan anti-imperialisme. Sedangkan kerangka pemikiran keislamannya juga bertumpu pada tiga hal: persamaan derajat manusia, Islam itu rasional dan sederhana, serta Islam adalah kemajuan. Menurut Bung Karno, ketiga hal itu yang menjadi ciri Islam pada masa kejayaannya dan menjadi landasan etos kerja bagi umat Islam untuk membebasan diri dari penjajahan dan keterbelakangan. (Lubis: 2010)

Jika hari-hari ini kita menyaksikan maraknya semangat keislaman dari segelintir orang ke arah yang lain—ekslusif, tidak toleran, dan penuh amarah—sangatlah disayangkan. Semangat keislaman itu justru seakan ingin mengingkari perkembangan zaman, dan membelenggu kebebasan berpikir dan bertindak.

Arah yang tidak sehat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu semestinya segera diluruskan. Dan negara harus tampil di garda depan untuk meluruskan arah tersebut. [Imran Hasibuan]