Bangsa Baja, Bukan Bangsa Bubur

Bangsa Baja, Bukan Bangsa Bubur

40
BERBAGI
Koran Suluh Indonesia edisi cetak Nomor 13/II/2017

Koran Sulindo – Bung Karno sangat memahami sejarah. Ia juga berkali-kali dalam berbagai kesempatan menyerukan rakyat Indonesia agar jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah.

Lebih dari itu, Bung Karno adalah pembuat sejarah. Ia merupakan salah seorang tokoh besar dalam sejarah dunia, yang sejak muda dikenal anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Karena, kolonialisme dan imperialisme pada dasarnya perbudakan atau eksploitasi manusia atas manusia (exploitation de l’homme par l’homme) dan penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain (exploitation de nation par nation).

Bung Karno juga menyadari benar, agar suatu bangsa dapat merdeka dan mempertahankan kemerdekaan, agar tidak diperbudak oleh bangsa lain, diperlukan suatu kekuatan, di samping adanya persatuan. “Baiklah, mau merdeka. Baiklah, mau berhenti jadi budak. Baiklah, bersatu dalam satu nation. Tetapi, nation yang lembek bagai bubur tidak ada guna, sekali diinjak sudah gepeng dia. Masih diperlukan lagi bajanya, baja yang membalut tubuh sampai menutup batang leher sehingga gempuran apa pun tidak membuatnya terjungkal!” demikian diungkapkan Bung Karno pada masa mudanya, yang ia tulis di majalah politik yang ia buat, Fikiran Ra’jat, edisi 15 Juli 1932.

Ketika Indonesia sudah berhasil merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, kesadaran Bung Karno mengenai pentingnya suatu negara punya kekuatan yang tangguh, dalam hal ini kekuatan senjata,  semakin ditegaskan. Karena, negara adalah suatu machtorganisasi (organisasi kekuasaan) yang memerlukan suatu angkatan bersenjata.

“Dan itulah sebabnya Saudara-Saudara melihat bahwa pemerintah Republik Indonesia di waktu yang belakangan ini dengan tegas menyusun angkatan bersenjata sedemikian rupa, seperti dikatakan Wampa/Kasab Jenderal Nasoetion beberapa hari yang lalu, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ini menempati tempat yang bagus sekali, kuat sekali dalam konstelasi dunia sekarang ini, terutama sekali di Asia…,” kata Bung Karno dalam amanatnya kepada siswa Sekolah Komando Angkatan Darat, 15 Desember 1962.

Memang, pada masa Bung Karno sebagai presiden di republik ini, kekuatan militer Indonesia menjadi salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia. Apalagi, ketika akan membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda, Indonesia mendapat dukungan besar dari Uni Soviet, yang memberikan perlengakapan militer canggih pada masanya, terutama untuk kekuatan armada laut dan udara. Satu di antaranya adalah kapal perang kelas Sverdlov, yang merupakan salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia. Bobotnya 16.640 ton, yang dilengkapi 12 meriam raksasa kaliber enam inci. Awaknya sebanyak 1.270 orang, termasuk 60 perwira.

Masih banyak lagi bantuan lain dari Negara Beruang Merah untuk armada laut dan juga udara. Itu sebabnya, kekuatan militer Indonesia pada masa Bung Karno menjadi yang paling kuat di seluruh selatan bumi, menandingi Australia.

Namun, kekuatan militer itu bukan untuk menjajah bangsa lain atau membuat imperium. Kekuatan senjata yang hebat dibutuhkan agar bangsa Indonesia tak kembali dijajah. Bahkan, Indonesia di masa Bung Karno pernah membantu persenjataan kepada bangsa lain yang ingin mengusir penjajah dari negerinya, antara lain kepada Front Nasional Pembebasan Aljazair yang sedang berperang melawan Prancis yang menjajah. Pada tahun 1957, Indonesia menyelundupkan senapan mesin untuk para pejuang Aljazair tersebut, dengan menggunakan dua kapal selam yang ketika itu baru saja dipesan Indonesia dari Uni Soviet.

Dengan dasar pemikiran itu pula Bung Karno menginginkan Indonesia punya senjata nuklir. Pada akhir tahun 1950-an, gagasan tersebut telah mulai dirintis untuk diwujudkan. Awal tahun 1960-an, beberapa reaktor atom kecil juga telah dibuat di beberapa kota. Bahkan, dibentuk pula Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom.

Tentu, sikap dan langkah Bung Karno itu membuat takut negara-negara nekolim dan para kompradornya di Tanah Air. Sejarah kemudian mencatat bagaimana Bung Karno digulingkan dari kursi kepresidenan. Dan setelah itu, negara ini pun menjadi bulan-bulanan negara-negara nekolim bila tak mau mengikuti kehendak dan kepentingan mereka—sampai sekarang! [PUR]